Memuat update terbaru...
Berita Terbaru

Pezeshkian: Keamanan Iran Harga Mati, Negosiasi Damai dengan AS-Israel Tergantung Jaminan Mutlak

Yuni Winarti

Jurnalis

Yuni Winarti

Pezeshkian: Keamanan Iran Harga Mati, Negosiasi Damai dengan AS-Israel Tergantung Jaminan Mutlak

Pacunews.Com — Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, pada Selasa (31/3/2026) menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mengakhiri konflik bersenjata yang berkecamuk dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel harus secara mutlak "menjamin keamanan dan kepentingan vital rakyat Iran." Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian dalam sebuah rapat kabinet yang krusial, mencerminkan ketegasan kepemimpinan baru Iran di tengah gejolak regional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak serangan awal yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu, kawasan Timur Tengah telah terjerumus ke dalam spiral konflik yang mengancam stabilitas global, menjadikan tuntutan jaminan keamanan ini sebagai fondasi utama bagi setiap prospek perdamaian.

Krisis yang melanda Iran saat ini berakar pada ketegangan yang telah membara selama beberapa dekade, dipicu oleh perselisihan mendalam mengenai program nuklir Iran, intervensi regional, dan permusuhan historis dengan AS dan Israel. Eskalasi terbaru ini, yang dimulai pada akhir Februari 2026, ditandai dengan serangkaian serangan udara dan rudal presisi yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap target-target strategis di wilayah Iran. Serangan tersebut, yang dilaporkan oleh berbagai sumber intelijen dan dikonfirmasi oleh laporan media internasional, menargetkan fasilitas militer, pusat komando, dan infrastruktur vital, dengan dalih "pencegahan" terhadap ancaman yang dirasakan dari Teheran. Namun, dampak paling menghancurkan dari serangan ini adalah tewasnya lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, sebuah pukulan telak yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kepemimpinan spiritual dan politik Republik Islam.

Kematian Ayatollah Khamenei memicu krisis suksesi yang cepat, mendorong Masoud Pezeshkian, mantan menteri kesehatan yang dikenal dengan latar belakang reformisnya, ke tampuk kepresidenan dalam situasi paling genting dalam sejarah modern Iran. Pezeshkian, yang mengambil alih kepemimpinan di tengah kabut perang dan duka nasional, kini mengemban tugas berat untuk menavigasi negaranya melalui badai konflik, menjaga persatuan, dan memulihkan stabilitas. Dalam pidatonya di rapat kabinet, seperti yang dikutip oleh kantor berita negara IRNA dan dilansir oleh Anadolu Agency, Pezeshkian menyoroti pentingnya "perlawanan yang ditunjukkan oleh tentara, bersama dengan persatuan nasional yang ditunjukkan oleh rakyat Iran selama perang." Ia menekankan bahwa faktor-faktor inilah yang menjadi "salah satu faktor terpenting yang membantu negara mengatasi keadaan kritis saat ini."

Pezeshkian juga secara khusus menggarisbawahi signifikansi "demonstrasi pro-pemerintah" yang telah memenuhi jalan-jalan di berbagai kota di seluruh Iran. Pertemuan-pertemuan massal ini, yang seringkali diadakan pada malam hari, memiliki nilai strategis yang besar bagi rezim Iran. "Pertemuan rakyat di malam hari memiliki nilai yang besar," katanya, seraya menambahkan bahwa "Iran menginspirasi para pejuang kemerdekaan." Demonstrasi ini, yang diselenggarakan oleh pemerintah, berfungsi sebagai simbol solidaritas nasional dan pesan tegas kepada musuh-musuh Iran bahwa meskipun terjadi serangan dan kehilangan pemimpin, rakyat Iran tetap bersatu di belakang pemerintah mereka. Mereka juga berfungsi untuk menggalang dukungan internal dan menepis narasi Barat yang seringkali menyoroti perbedaan pendapat dan protes anti-pemerintah di Iran. Dengan memproyeksikan citra persatuan yang tak tergoyahkan, Iran berupaya memperkuat posisi tawar-menawarnya di panggung internasional dan menunjukkan bahwa negara itu tidak akan menyerah pada tekanan eksternal.

Sebagai respons terhadap serangan 28 Februari yang mematikan dan kematian pemimpin tertingginya, Iran melancarkan apa yang disebutnya "Operasi Balas Dendam Martyr Khamenei." Balasan ini datang dalam bentuk gelombang rudal balistik dan pesawat nirawak canggih yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk yang diketahui menampung aset militer AS. Serangan balasan Iran, yang terjadi beberapa hari setelah serangan awal, menimbulkan korban jiwa tambahan, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur militer dan sipil di wilayah yang ditargetkan. Fasilitas militer di Israel, termasuk pangkalan udara dan sistem pertahanan rudal, dilaporkan terkena dampak. Demikian pula, pangkalan-pangkalan AS di Irak dan Yordania, serta fasilitas di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dianggap sebagai sekutu AS, juga menjadi sasaran. Eskalasi ini tidak hanya memperdalam konflik antara Iran dan aliansi AS-Israel, tetapi juga mengubah koridor udara dan perairan di Timur Tengah menjadi zona tempur yang sangat berbahaya, mengganggu pasar global dan penerbangan sipil secara drastis.

Dampak ekonomi dari konflik ini segera terasa di seluruh dunia. Harga minyak mentah melambung tinggi, melewati angka $150 per barel dalam beberapa hari setelah serangan balasan Iran, memicu kekhawatiran akan inflasi global yang lebih parah. Jalur pelayaran utama di Teluk Persia, termasuk Selat Hormuz, yang merupakan titik choke point vital untuk seperlima pasokan minyak global, menjadi sangat berisiko, menyebabkan kenaikan drastis dalam premi asuransi pengiriman dan penundaan yang signifikan. Pasar saham global anjlok, dan kepercayaan investor terguncang oleh ketidakpastian yang mencekam di salah satu wilayah paling strategis di dunia. Di Iran sendiri, ekonomi yang sudah tertekan oleh sanksi internasional diperkirakan akan semakin menderita, dengan kemungkinan sanksi baru yang lebih berat dan isolasi ekonomi yang mendalam.

Secara geopolitik, konflik ini telah memicu keprihatinan serius dari komunitas internasional. Dewan Keamanan PBB telah mengadakan beberapa sesi darurat, menyerukan penghentian permusuhan segera dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Namun, upaya diplomatik sejauh ini terbukti sulit, dengan kedua belah pihak menunjukkan sedikit kemauan untuk berkompromi tanpa jaminan yang kuat. Uni Eropa, bersama dengan negara-negara Arab moderat, telah menyerukan de-eskalasi dan dialog, khawatir bahwa konflik yang meluas akan memicu krisis pengungsi yang masif dan ketidakstabilan regional yang tak terkendali. Tiongkok dan Rusia, meskipun menyerukan ketenangan, juga menunjukkan dukungan tersirat terhadap Iran, mengkritik apa yang mereka sebut "intervensi asing" di kawasan itu.

Bagi Presiden Pezeshkian, tantangan terbesarnya adalah menyeimbangkan tuntutan internal akan pembalasan dan pertahanan kedaulatan dengan kebutuhan untuk menghindari perang habis-habisan yang dapat menghancurkan negaranya. Pernyataan Pezeshkian bahwa jaminan keamanan dan kepentingan rakyat Iran adalah prasyarat untuk setiap kesepakatan damai bukan sekadar retorika politik. Ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang sejarah pahit Iran dengan kekuatan Barat dan keyakinan bahwa setiap konsesi tanpa jaminan nyata akan dilihat sebagai kelemahan. "Tanpa jaminan keamanan dan kedaulatan yang tak tergoyahkan," kata Pezeshkian, "prospek perdamaian akan tetap menjadi ilusi."

Masa depan hubungan Iran dengan AS dan Israel, serta stabilitas regional yang lebih luas, akan sangat bergantung pada bagaimana tuntutan Pezeshkian ini direspons. Apakah akan ada ruang untuk negosiasi yang tulus yang dapat memenuhi tuntutan keamanan Iran sambil juga mengatasi kekhawatiran AS dan Israel, ataukah kawasan itu akan terus terperosok ke dalam konflik yang lebih dalam? Dengan kerugian jiwa yang terus bertambah, kerusakan infrastruktur yang meluas, dan ancaman terhadap tatanan global, taruhannya tidak pernah setinggi ini. Dunia menanti dengan napas tertahan, berharap agar kebijaksanaan dan diplomasi dapat mengalahkan godaan konflik dan membawa Timur Tengah kembali dari jurang kehancuran. (rfs/rfs)

Bagikan: