Memuat update terbaru...
Berita Terbaru

Eskalasi Konflik Yaman: Serangan Bandara Sanaa Ungkap Kembali Tensi Iran-Saudi dan Ancaman Retaliasi Houthi

Yuni Winarti

Jurnalis

Yuni Winarti

Eskalasi Konflik Yaman: Serangan Bandara Sanaa Ungkap Kembali Tensi Iran-Saudi dan Ancaman Retaliasi Houthi

Pacunews.Com, Konflik di Yaman kembali memanas dengan insiden serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa pada Senin (13/7/2026), sebuah peristiwa yang memicu saling tuding antara Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kelompok pemberontak Houthi yang menguasai ibu kota. Pemerintah Yaman mengklaim serangan itu merupakan upaya untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Sanaa, sementara Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik "agresi" tersebut. Insiden ini menandai eskalasi ketegangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, mengancam upaya perdamaian yang rapuh dan memperpanjang penderitaan jutaan warga Yaman.

Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Yaman menguraikan motif di balik serangan tersebut. Menurut mereka, tindakan ini diambil setelah kelompok Houthi, yang didukung Iran, menolak penggunaan maskapai nasional Yemenia untuk memulangkan delegasinya dari Teheran. Delegasi Houthi tersebut sebelumnya menghadiri pemakaman seorang pemimpin tertinggi Iran. Pemerintah Yaman menuduh Houthi justru bersikeras menggunakan pesawat Iran untuk memasuki wilayah udara Yaman, sebuah tindakan yang dianggap melanggar kedaulatan dan menjadi provokasi. "Milisi teroris Houthi yang didukung rezim Iran mencegah pesawat nasional Yaman mendarat di Bandara Sanaa, sementara tetap mengizinkan pesawat Iran melanggar wilayah udara Yaman. Karena itu landasan pacu bandara menjadi sasaran," demikian tegas Kementerian Pertahanan Yaman. Klaim ini menyiratkan bahwa serangan itu bukan ditujukan untuk menghancurkan bandara, melainkan untuk melumpuhkan landasan pacu secara taktis demi menggagalkan pendaratan pesawat Iran yang tidak sah.

Namun, narasi yang disampaikan oleh kelompok Houthi sangat berbeda. Melalui televisi Al-Masirah yang mereka kelola, Houthi melaporkan bahwa landasan pacu Bandara Internasional Sanaa menjadi sasaran "agresi Saudi". Tuduhan ini langsung mengarah pada koalisi pimpinan Arab Saudi yang telah terlibat dalam perang Yaman sejak 2015 untuk mendukung Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Houthi secara konsisten menuding Arab Saudi melakukan agresi militer dan blokade terhadap Yaman, yang menyebabkan krisis kemanusiaan parah. Pertukaran tuduhan ini menggarisbawahi kompleksitas konflik Yaman, di mana kebenaran sering kali kabur di tengah propaganda yang saling bertentangan dari berbagai pihak.

Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi memang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, jauh sebelum insiden bandara ini. Awal bulan ini, Houthi menuduh Riyadh menyerang sebuah pesawat Iran yang mendarat di Bandara Sanaa. Pesawat tersebut diklaim Houthi membawa delegasi mereka. Insiden sebelumnya ini telah memicu ancaman serius dari Houthi. Mereka memperingatkan bahwa akan menyerang bandara serta aset-aset vital milik Arab Saudi apabila Riyadh kembali melanggar wilayah udara Yaman atau melancarkan serangan baru. Ancaman ini kini tampaknya telah menemukan justifikasinya di mata Houthi pasca-serangan di Sanaa, mempertebal kekhawatiran akan siklus kekerasan dan pembalasan yang tidak berkesudahan.

Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran serius akan kembali memanasnya konflik antara Houthi dan Arab Saudi setelah beberapa tahun terakhir relatif mereda. Periode "de-eskalasi" yang disebutkan oleh juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, merujuk pada upaya-upaya gencatan senjata dan negosiasi yang, meskipun sering kali goyah, sempat menawarkan secercah harapan. Gencatan senjata yang ditengahi PBB pada April 2022, misalnya, sempat bertahan selama enam bulan dan mengurangi tingkat kekerasan secara signifikan, membuka koridor bantuan kemanusiaan dan memfasilitasi pertukaran tahanan. Namun, kegagalan untuk memperbarui gencatan senjata tersebut pada Oktober 2022 telah menyisakan ketidakpastian, dan insiden di Sanaa ini kini menjadi sinyal nyata bahwa fase relatif tenang telah berakhir.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dengan tegas menyatakan bahwa Arab Saudi telah mengakhiri fase de-eskalasi konflik dan harus memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi agresinya. "Agresi ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan atau hukuman," ujar Saree. Pernyataan ini bukan hanya retorika kosong; Houthi memiliki rekam jejak dalam melancarkan serangan balasan terhadap target-target di Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak, bandara, dan kota-kota perbatasan, menggunakan rudal balistik dan drone. Ancaman Saree memperingatkan bahwa potensi serangan pembalasan akan menjadi kenyataan, berpotensi menyeret wilayah tersebut ke dalam pusaran kekerasan yang lebih besar.

Latar Belakang Konflik Yaman: Perang Proksi dan Krisis Kemanusiaan

Untuk memahami sepenuhnya signifikansi serangan di Bandara Sanaa, penting untuk melihat kembali akar konflik Yaman. Perang saudara ini, yang sering disebut sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran, dimulai pada akhir 2014 ketika pemberontak Houthi menguasai Sanaa dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Houthi, yang merupakan kelompok minoritas Syiah Zaidi dari utara Yaman, merasa terpinggirkan dan menuntut representasi yang lebih besar. Mereka dengan cepat mengkonsolidasikan kekuasaan, memicu intervensi militer oleh koalisi pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015. Koalisi ini, yang didukung oleh Amerika Serikat dan Inggris, bertujuan untuk mengembalikan pemerintahan Hadi dan menghalau pengaruh Iran di Yaman.

Sejak saat itu, Yaman telah terperosok dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Jutaan orang menghadapi kelaparan, penyakit kolera, dan kekurangan akses terhadap air bersih serta layanan kesehatan. Blokade darat, laut, dan udara yang diberlakukan oleh koalisi pimpinan Saudi, meskipun diklaim untuk mencegah masuknya senjata ke Houthi, secara signifikan membatasi aliran bantuan kemanusiaan dan komoditas esensial. Bandara Internasional Sanaa, yang berada di bawah kendali Houthi, telah menjadi salah satu titik fokus blokade ini. Meskipun kadang-kadang dibuka untuk penerbangan bantuan kemanusiaan PBB, akses komersial reguler sangat terbatas, memperparah isolasi jutaan warga Yaman.

Peran Iran dan Saudi dalam Konflik

Iran membantah secara langsung mempersenjatai Houthi, namun dukungan politik, finansial, dan teknis mereka telah didokumentasikan dengan baik oleh berbagai laporan intelijen dan ahli. Bagi Iran, Yaman adalah medan perang penting dalam persaingan geopolitiknya dengan Arab Saudi untuk dominasi regional. Mendukung Houthi memungkinkan Iran untuk menekan Arab Saudi di perbatasan selatannya, menciptakan ancaman yang memaksa Riyadh mengalokasikan sumber daya militer yang besar dan mengurangi kemampuannya untuk memproyeksikan kekuatan di tempat lain. Insiden pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi, terlepas dari klaim yang saling bertentangan, menegaskan kembali hubungan dekat antara Teheran dan Sanaa yang dikuasai Houthi.

Di sisi lain, Arab Saudi memandang Houthi sebagai proxy Iran yang berupaya membentuk "Hizbullah kedua" di perbatasan selatannya, mengancam keamanan nasional dan rute pelayaran vital di Laut Merah. Intervensi Saudi adalah respons langsung terhadap apa yang mereka anggap sebagai ekspansi pengaruh Iran yang tidak dapat diterima. Namun, kampanye militer Saudi telah menimbulkan kritik internasional yang luas karena menyebabkan korban sipil yang tinggi dan memperburuk krisis kemanusiaan. Klaim Houthi tentang "agresi Saudi" di Bandara Sanaa beresonansi dengan narasi mereka tentang Riyadh sebagai agresor utama dalam konflik ini.

Signifikansi Bandara Internasional Sanaa

Bandara Internasional Sanaa bukan hanya sebuah fasilitas transportasi biasa; ia adalah simbol kedaulatan, jalur kehidupan, dan juga titik panas militer. Bagi Houthi, bandara ini adalah gerbang utama mereka ke dunia luar, meskipun aksesnya sangat terbatas oleh blokade. Bagi Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan koalisi Saudi, bandara ini adalah aset strategis yang dikuasai musuh dan berpotensi digunakan untuk tujuan militer, seperti menerima pasokan senjata dari Iran.

Sejarah bandara ini selama konflik penuh dengan insiden. Telah berkali-kali menjadi sasaran serangan udara koalisi, yang mengklaim menargetkan fasilitas militer atau infrastruktur yang digunakan Houthi untuk tujuan perang. Pada saat yang sama, Houthi menuduh koalisi sengaja menargetkan infrastruktur sipil dan memblokade bandara untuk menghambat perjalanan pasien yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri serta pengiriman bantuan. Insiden terbaru ini, di mana Pemerintah Yaman secara terbuka mengakui serangan, adalah perkembangan signifikan yang menyoroti betapa krusialnya bandara ini dalam dinamika konflik.

Masa Depan Konflik dan Upaya Perdamaian

Kembalinya eskalasi di Yaman, terutama setelah periode de-eskalasi yang menjanjikan, adalah pukulan telak bagi upaya perdamaian yang dipimpin PBB. Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, telah berulang kali menyerukan semua pihak untuk menunjukkan pengekangan dan kembali ke meja perundingan. Namun, insiden seperti serangan Bandara Sanaa mengikis kepercayaan dan memperkuat garis keras di kedua belah pihak.

Konsekuensi dari eskalasi ini akan sangat parah. Selain potensi peningkatan korban sipil dan kerusakan infrastruktur, konflik yang memanas akan semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah mengerikan. Akses bantuan kemanusiaan bisa semakin terhambat, dan prospek negosiasi politik yang komprehensif akan semakin jauh. Ancaman Houthi untuk melakukan pembalasan terhadap Arab Saudi juga membuka kemungkinan serangan lintas batas yang lebih sering, mengancam stabilitas regional secara keseluruhan.

Untuk mencapai solusi yang langgeng, komunitas internasional harus meningkatkan tekanan diplomatik pada semua pihak yang berkonflik, serta pada pendukung regional mereka, untuk mengakhiri kekerasan dan kembali ke jalur dialog. Tanpa komitmen nyata untuk de-eskalasi dan penyelesaian politik, Yaman akan terus menjadi arena bagi perang proksi yang menghancurkan, dengan rakyat Yaman yang tak berdosa menanggung beban terberat dari konflik ini. Insiden di Bandara Sanaa ini menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa perdamaian di Yaman masih jauh dari kenyataan.

Bagikan: