Pacunews.Com melaporkan, di tengah kearifan lokal yang masih kental, suara lonceng suci yang memecah keheningan di lereng Gunung Agung, Bali, bukan sekadar gema ritual. Ia adalah mukadimah bagi sebuah harapan baru, sebuah simfoni harmoni antara spiritualitas dan aksi nyata. Dari Pura Kancing Gumi, yang berdiri kokoh 250 meter di atas permukaan laut, doa-doa tulus dilambungkan memohon keselamatan alam semesta. Namun, masyarakat di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih memahami bahwa doa saja tidak cukup; ia harus beriringan dengan laku nyata, sebuah komitmen yang kini diwujudkan melalui inisiatif transformatif Pertamina.
Di jantung Pulau Dewata, tepatnya di lereng Gunung Agung yang sakral, filosofi Tri Hita Karana – keseimbangan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam – bukan sekadar dogma, melainkan panduan hidup yang mengakar kuat. Pasca-erupsi dahsyat Gunung Agung pada tahun 2017 yang sempat mematikan denyut kehidupan di kawasan tersebut, Pertamina hadir dengan program "Hutan Lestari". Inisiatif ini melampaui sekadar upaya reforestasi, ia adalah sebuah misi untuk menghidupkan kembali tidak hanya ekosistem yang sempat mati suri, tetapi juga sendi-sendi ekonomi warga desa yang terdampak. Program ini menjadi jembatan antara konservasi lingkungan dan peningkatan taraf hidup masyarakat, membuktikan bahwa keberlanjutan alam dan kesejahteraan manusia dapat berjalan beriringan.
Sosok sentral di balik keberhasilan program ini adalah I Nyoman Artana, seorang pahlawan lokal yang tak kenal lelah. Nyoman Artana dengan tegas menekankan urgensi menjaga Besakih, yang ia sebut sebagai "Huluning Bali Rajya" atau hulu dari Pulau Dewata. "Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana, mulai dari krisis air hingga perubahan iklim yang lebih ekstrem," ujar Nyoman dalam keterangan tertulis yang diterima Pacunews.Com pada Minggu (22/3/2026). Pandangan visioner Artana ini menjadi fondasi bagi upaya konservasi yang terintegrasi, di mana setiap pohon yang ditanam dan setiap langkah pelestarian lingkungan memiliki dampak domino terhadap kelangsungan hidup seluruh ekosistem Bali.
Buah dari komitmen menjaga "hulu" ini kini terasa sangat manis. Kelompok binaan I Nyoman Artana, yang dulunya mungkin hanya mengandalkan pertanian subsisten atau pekerjaan serabutan, kini telah bertransformasi menjadi produsen madu yang produktif. Mereka mampu memanen madu hingga 100 hingga 150 kilogram per tahun, sebuah angka yang signifikan. Lebih menarik lagi, madu kelanceng, salah satu jenis madu yang mereka hasilkan, memiliki khasiat tinggi dan dibanderol dengan harga fantastis, mencapai Rp500.000 per liter. Ini bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas produk yang dihargai tinggi di pasar. Madu kelanceng, yang dikenal kaya akan antioksidan dan enzim, menjadi salah satu komoditas unggulan yang mengangkat perekonomian lokal.
Selain madu, geliat wisata alam di kawasan ini juga melonjak drastis. Area yang dulunya sepi dan hanya dikenal sebagai jalur pendakian spiritual, kini bermetamorfosis menjadi destinasi ekowisata yang menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Pendapatan kelompok pengelola wisata di Besakih kini mencapai angka yang luar biasa, yakni Rp120 juta per bulan. Angka ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi puluhan warga desa yang kini berperan sebagai pemandu wisata, pengelola fasilitas, hingga penjual produk lokal. Dampak sosial dari program ini begitu nyata, memberikan harapan dan masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat sekitar Gunung Agung.
Dari lereng vulkanik Bali, kita bergeser ke tanah Sumatra yang subur, tepatnya di Ulubelu, Lampung. Di sini, kisah Wastoyo menjadi bukti nyata bagaimana hutan tidak hanya mampu menghidupkan kembali alam, tetapi juga mengubah karakter dan pandangan hidup seseorang. Dahulu kala, hutan bagi Wastoyo dan rekan-rekannya di Ulubelu, Lampung, hanyalah ladang untuk memenuhi kebutuhan sesaat, sebuah medan perburuan yang tak mengenal lelah dan sasaran empuk bagi gergaji mesin. Praktik penebangan liar dan perburuan satwa menjadi jalan pintas yang mereka yakini sebagai satu-satunya cara untuk menyambung hidup, sebuah siklus destruktif yang didorong oleh keterbatasan pengetahuan dan himpitan ekonomi. Mereka terjebak dalam paradigma yang keliru, di mana eksploitasi alam dianggap sebagai solusi instan, tanpa menyadari dampak jangka panjang yang menghancurkan. "Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi," ungkap Wastoyo, mengenang masa lalu yang penuh perjuangan.
Titik balik dalam hidup Wastoyo dan komunitasnya terjadi saat Pertamina memperkenalkan "Sekolah Hutan Lestari". Ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah pendampingan intensif yang komprehensif kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Margo Rukun. Melalui sekolah ini, para mantan pemburu dan penebang hutan ini perlahan bertransformasi menjadi pembudidaya ulung yang sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka tidak hanya diajarkan tentang pentingnya konservasi, tetapi juga dibekali dengan keterampilan praktis. Program ini melibatkan penanaman lebih dari 50.000 bibit pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) yang berfungsi ganda, tidak hanya untuk menahan erosi dan memulihkan lahan kritis, tetapi juga menghasilkan buah, kayu bakar, dan pakan ternak. Selain itu, mereka juga diajari mengolah limbah kopi menjadi pupuk berkualitas tinggi melalui unit Pertaganik Bestari, sebuah inovasi yang mendukung pertanian berkelanjutan dan ekonomi sirkular.

Keberhasilan program ini tercermin dari angka yang fantastis: KUPS Margo Rukun kini mencatatkan omzet hingga Rp2,2 miliar per tahun. Ini adalah lompatan ekonomi yang luar biasa, mengubah kehidupan puluhan keluarga di Ulubelu. Lebih dari sekadar keuntungan finansial, produk bibit dan konsep budidaya lebah yang mereka kembangkan bahkan telah diadopsi oleh berbagai perusahaan multinasional sebagai standar rehabilitasi lahan di Lampung. Ini membuktikan bahwa pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, yang memadukan konservasi dengan pemberdayaan ekonomi, dapat menciptakan model sukses yang direplikasi secara luas.
Bergeser lagi ke pesisir Selatan Jawa, sebuah cerita unik tentang keteguhan hati lahir dari tangan dingin Wahyono di Kampung Laut, Cilacap. Dahulu, kawasan ini adalah saksi bisu dari kerusakan lingkungan yang parah. Pembalakan mangrove besar-besaran telah mengubah lanskap pesisir menjadi lahan gersang, rentan terhadap abrasi, dan menyebabkan kematian massal udang yang menjadi mata pencarian utama warga. Di tengah keputusasaan, Wahyono muncul dengan ide "gila": menanam kembali bakau di atas lahan yang nyaris mati. "Dulu semuanya gersang, udang mati terserang penyakit, namun, saya yakin mangrove adalah 'pabrik' alami kita, kini, keraguan warga sirna," ucap Wahyono, menggambarkan perjuangannya saat itu.
Kegigihan Wahyono membuahkan hasil yang menakjubkan. Dengan sistem pembibitan mandiri yang ia kembangkan, Wahyono kini mampu memproduksi hingga 800 ribu bibit mangrove setiap tahunnya. Jumlah ini bukan sekadar angka, melainkan simbol kehidupan baru bagi ekosistem pesisir Cilacap. Kawasan tersebut kini telah bermetamorfosis menjadi pusat eduwisata mangrove yang ramai dikunjungi. Lebih jauh, keberhasilan Wahyono dan komunitasnya telah menarik perhatian peneliti mancanegara, yang mengakui Kampung Laut sebagai model pemulihan ekosistem pesisir yang patut dicontoh. "Dulu mereka bilang saya gila, sekarang kita 'gila' bersama-sama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu," katanya dengan bangga, menyiratkan perubahan paradigma kolektif yang terjadi di masyarakat.
Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, menegaskan bahwa ketiga kisah sukses ini adalah bukti konkret dari upaya Pertamina dalam mendukung program kedaulatan pangan nasional. Ini sejalan dengan visi pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. "Program Hutan Lestari Pertamina adalah perwujudan nyata komitmen kami. Kami telah menanam lebih dari delapan juta pohon produktif dan mangrove di berbagai penjuru negeri, dan yang terpenting, kami telah membina masyarakat sekitar melalui integrasi antara reforestasi, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi generasi muda," jelas Baron.
Baron melanjutkan, Pertamina membuktikan bahwa menjaga energi bumi bisa sejalan dengan menghidupkan kemandirian masyarakat. Konsep ini mengubah paradigma lama di mana hutan hanya dijaga agar tidak rusak, menjadi hutan yang dirawat secara aktif agar terus memberi kehidupan dan kesejahteraan. Program ini menciptakan dampak berganda, mulai dari pemulihan ekosistem, mitigasi perubahan iklim, hingga penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih hijau dan lebih makmur.
Program Hutan Lestari Pertamina juga berkontribusi secara signifikan pada pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa. Secara spesifik, inisiatif ini mendukung SDG 2 (Mengakhiri Kelaparan) melalui peningkatan produksi pangan dan diversifikasi ekonomi; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan) dengan mendorong praktik pertanian dan kehutanan yang ramah lingkungan; serta SDG 13 (Aksi Iklim) melalui reforestasi yang menyerap karbon dan mitigasi dampak perubahan iklim. Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), yang menjadi landasan Pertamina dalam menjalankan bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Pertamina terus berkomitmen untuk menjadi perusahaan energi yang tidak hanya handal, tetapi juga menjadi agen perubahan positif bagi alam dan masyarakat Indonesia.
(akn/ega)
- ➝ Strategi Menjaga Kualitas Produk Usaha: Langkah Strategis Mempertahankan Nilai Tanpa Perlu Banting Harga
- ➝ Cara Membuat Rebusan Daun Ciplukan dan Manfaatnya bagi Kesehatan Body: Panduan Lengkap Khasiat Medis
- ➝ Makanan Gizi Seimbang & Tinggi Serat: Panduan Harian Berbasis Standar Nutrisi Terbaru 2026