Pacunews.Com, - Aljir menjadi pusat perhatian dunia pariwisata pada tahun 2026 dengan digelarnya Salon International du Tourism et des Voyages (SITEV) ke-25. Acara bergengsi ini, yang berlangsung di Palais des Expositions (SAFEX), Kota Aljir, Aljazair, kembali mempertemukan para pemangku kepentingan industri pariwisata dari berbagai penjuru dunia. Di tengah hiruk pikuk pameran internasional tersebut, Indonesia hadir dengan gemilang, menampilkan kekayaan budaya dan pesona alamnya, sekaligus menegaskan posisinya sebagai destinasi pariwisata unggulan global. Kehadiran Indonesia bukan sekadar partisipasi, melainkan sebuah pernyataan diplomasi budaya yang kuat, berupaya menarik minat wisatawan dan investor dari kawasan Afrika Utara dan sekitarnya.
Gelaran SITEV ke-25 tahun ini memiliki makna khusus, tidak hanya bagi Aljazair sebagai tuan rumah, tetapi juga bagi negara-negara peserta yang tengah gencar memulihkan dan mengembangkan sektor pariwisatanya pasca-pandemi global. Pameran ini menyediakan platform vital bagi pertukaran pengalaman, keahlian, dan promosi layanan komersial pariwisata, memungkinkan instansi, institusi, profesional, dan pakar untuk berjejaring dan merumuskan strategi masa depan. Di tengah suasana yang kompetitif namun kolaboratif ini, booth Indonesia berhasil mencuri perhatian, menjadi magnet yang memancarkan pesona Nusantara di jantung Aljazair.
Pada Senin, 18 Mei 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai negara, termasuk perwakilan dari detikcom, berkesempatan mengunjungi langsung booth Indonesia. Undangan eksklusif ini datang dari Kementerian Pariwisata dan Kerajinan Aljazair, sebuah langkah strategis untuk memastikan liputan yang luas dan mendalam mengenai SITEV, sekaligus menyoroti kontribusi signifikan dari negara-negara peserta seperti Indonesia. Jajaran jurnalis tersebut, yang datang dari latar belakang media dan budaya yang beragam, memberikan perspektif global terhadap pameran ini, sekaligus menjadi saksi langsung upaya Indonesia dalam mempromosikan pariwisatanya.
Booth Indonesia ditempatkan secara strategis di tengah-tengah lokasi acara, sebuah posisi yang menunjukkan pentingnya partisipasi Indonesia dan memudahkan akses bagi pengunjung. Desain booth yang memukau menjadi ciri khas tersendiri. Sebuah replika Rumah Gadang, rumah adat ikonik Minangkabau dari Sumatera Barat, berdiri megah sebagai penanda utama. Kehadiran Rumah Gadang, dengan arsitekturnya yang unik berupa atap bergonjong menyerupai tanduk kerbau, bukan hanya menarik perhatian visual, tetapi juga membawa narasi tentang kekayaan adat istiadat dan filosofi budaya Minangkabau yang kental dengan sistem matrilineal dan nilai-nilai kebersamaan. Replika ini menjadi simbol keindahan dan keunikan arsitektur vernakular Indonesia yang beragam.

Selain Rumah Gadang, booth Indonesia juga dihiasi dengan ornamen kebudayaan lainnya yang tak kalah memukau. Gapura khas Bali, dengan ukiran artistik dan nuansa spiritualnya, menyambut setiap pengunjung yang melintas. Gapura ini bukan hanya elemen dekoratif, melainkan representasi dari "Pulau Dewata" yang telah lama menjadi magnet pariwisata global, menawarkan keindahan alam, budaya spiritual, dan keramahan penduduknya. Di sekeliling booth, berbagai kain batik dengan motif dan warna yang beragam dipajang, menampilkan keindahan seni tekstil tradisional Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Setiap motif batik memiliki cerita dan makna filosofisnya sendiri, mencerminkan kekayaan sejarah dan kreativitas bangsa. Gabungan elemen-elemen ini menciptakan sebuah pengalaman imersif yang memperkenalkan pengunjung pada spektrum budaya Indonesia yang luas dan menawan.
Pembuatan booth yang artistik dan informatif ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi rekan-rekan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Aljazair. Mereka tidak hanya merancang tata letak dan memilih elemen dekoratif, tetapi juga memastikan setiap detail mencerminkan esensi kebudayaan Indonesia. Upaya ini membuahkan hasil, terbukti dari banyaknya pengunjung yang berdatangan untuk melihat-lihat dan menggali lebih dalam beragam kebudayaan Indonesia yang ditampilkan. Para pengunjung, mulai dari delegasi negara lain, pelaku industri pariwisata, hingga masyarakat umum Aljazair, tampak antusias berinteraksi dengan staf KBRI dan mempelajari lebih lanjut tentang destinasi wisata dan warisan budaya Indonesia.
Muhammad Syafri, Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) KBRI Aljazair, saat ditemui di lokasi, menyatakan kebanggaannya atas partisipasi Indonesia. "Kita tiap tahun partisipasi di SITEV, dan untuk tahun ini SITEV dilaksanakan berbarengan dengan pameran pertanian dan pameran farmasi. Tahun ini kita dapat booth yang lebih besar dan sejauh ini respons dari masyarakat cukup baik," kata Syafri. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen berkelanjutan Indonesia terhadap pameran ini, serta menunjukkan adanya peningkatan apresiasi dari penyelenggara yang memberikan ruang pamer lebih besar. Penyelenggaraan SITEV yang berbarengan dengan pameran pertanian dan farmasi juga membuka peluang baru untuk menarik audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang mungkin tertarik pada potensi agrowisata atau wisata kesehatan di Indonesia.
Syafri lebih lanjut mengungkapkan bahwa respons para pengunjung terhadap booth Indonesia sangat positif. Banyak dari mereka, ujarnya, secara spesifik bertanya terkait pariwisata Indonesia, khususnya Bali. Popularitas Bali sebagai destinasi wisata internasional memang tidak terbantahkan, namun KBRI Aljazair juga berupaya memperkenalkan destinasi lain di Indonesia yang tak kalah menarik, seperti keindahan alam Raja Ampat, kekayaan budaya Yogyakarta, atau pesona danau Toba. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pengunjung tidak hanya sebatas informasi destinasi, tetapi juga menyangkut aspek praktis seperti persyaratan visa, aksesibilitas penerbangan, dan paket wisata yang tersedia. Hal ini menunjukkan adanya minat konkret yang perlu ditindaklanjuti dengan informasi yang lebih komprehensif.
Harapan KBRI Aljazair melalui partisipasi di SITEV ini sangat besar. Syafri berharap, masyarakat dari berbagai negara dunia yang datang ke pameran ini dapat lebih mengenal Indonesia secara menyeluruh, tidak hanya dari satu atau dua destinasi populer saja. "Harapan kami nanti mungkin kita bisa terus menambah promosi Indonesia di sini, karena hubungan Indonesia dengan Aljazair sudah cukup baik, hubungan sejarah kita cukup dekat," ujarnya. Pernyataan ini menyoroti aspek diplomasi yang terjalin erat dengan promosi pariwisata. Hubungan sejarah yang dimaksud merujuk pada ikatan kuat yang terbentuk sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955, di mana Indonesia secara vokal mendukung perjuangan kemerdekaan Aljazair dari penjajahan. Persahabatan historis ini menjadi fondasi yang kokoh untuk mempererat hubungan bilateral di berbagai sektor, termasuk pariwisata dan kebudayaan.

Aljazair, sebagai negara di kawasan Maghribi yang kaya sejarah dan budaya, memiliki potensi besar sebagai pasar wisatawan dan mitra strategis bagi Indonesia. Melalui pameran seperti SITEV, Indonesia tidak hanya menawarkan destinasi wisata, tetapi juga membangun jembatan budaya dan ekonomi. Meningkatnya jumlah penerbangan langsung atau konektivitas yang lebih baik antara kedua negara, serta kemudahan dalam proses visa, adalah beberapa langkah konkret yang dapat mempercepat realisasi potensi ini. Selain itu, promosi yang lebih tertarget kepada segmen pasar Aljazair, seperti wisata halal atau wisata keluarga, dapat menjadi strategi efektif untuk menarik lebih banyak pengunjung.
Dilansir dari website Kedutaan Aljazair, SITEV memang merupakan pertemuan ekonomi tahunan utama yang dirancang untuk mempertemukan para pemangku kepentingan pariwisata tingkat nasional, regional, maupun internasional. Lebih dari sekadar pameran, acara ini adalah platform pertukaran bagi instansi, institusi, profesional, dan pakar, yang memungkinkan mereka untuk berbagi pengalaman, keahlian, teknik modern, serta mempromosikan layanan komersial pariwisata. Dengan fokus pada inovasi dan keberlanjutan, SITEV berperan penting dalam membentuk masa depan industri pariwisata di kawasan tersebut. Kehadiran berbagai negara, termasuk Indonesia, memperkaya diskusi dan membuka peluang kolaborasi lintas batas yang tak terbatas.
Sebelum mengikuti gelaran SITEV, rombongan detikcom bersama jurnalis lainnya diajak untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata di lima kota di Aljazair. Undangan dari Kementerian Pariwisata dan Kerajinan Aljazair ini merupakan bagian dari upaya tuan rumah untuk memperkenalkan kekayaan alam dan sejarah mereka sendiri kepada media internasional. Perjalanan dimulai dari Kota Aljir yang kosmopolitan, dilanjutkan ke Oran yang memiliki pesona Mediterania, Tlemcen yang kaya warisan budaya dan arsitektur Islam, Annaba dengan reruntuhan Romawi kuno yang memukau, dan terakhir ke Tipaza yang menawarkan keindahan pesisir dan situs arkeologi. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan jurnalis tentang Aljazair, tetapi juga menjadi contoh konkret dari pertukaran budaya dan promosi pariwisata yang saling menguntungkan antara kedua negara.
Keikutsertaan Indonesia di SITEV 2026 di Aljazair adalah manifestasi nyata dari komitmen bangsa dalam memperluas jangkauan pariwisata globalnya. Dengan menampilkan kekayaan budaya yang tak tertandingi, mulai dari replika Rumah Gadang hingga motif batik yang elegan, Indonesia berhasil menciptakan narasi yang kuat tentang identitasnya. Sambutan positif dari pengunjung dan dialog yang terjalin antara delegasi Indonesia dengan berbagai pihak menunjukkan potensi besar untuk peningkatan jumlah wisatawan dari kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Melalui event-event internasional semacam ini, Indonesia tidak hanya mempromosikan destinasi wisata, tetapi juga memperkuat ikatan persahabatan, diplomasi budaya, dan kolaborasi ekonomi dengan negara-negara di seluruh dunia, membangun jembatan pemahaman dan apresiasi terhadap keindahan Nusantara yang tak ada habisnya.