Memuat update terbaru...
Berita Terbaru

Fadli Zon Angkat Bicara: Fenomena Gunung Kawi Sebagai Mozaik Budaya dan Potensi Ekonomi Lokal

Yuni Winarti

Jurnalis

Yuni Winarti

Fadli Zon Angkat Bicara: Fenomena Gunung Kawi Sebagai Mozaik Budaya dan Potensi Ekonomi Lokal

Pacunews.Com, Jakarta – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon baru-baru ini menyoroti fenomena yang tengah ramai diperbincangkan di Gunung Kawi, Jawa Timur. Pernyataannya menggarisbawahi kompleksitas antara kepercayaan tradisional, keberagaman budaya, dan potensi ekonomi lokal. Fadli Zon melihat peristiwa di Gunung Kawi, yang menjadi sorotan setelah kunjungan Pesulap Merah, sebagai bagian tak terpisahkan dari mozaik budaya Indonesia yang kaya, menekankan pentingnya menjaga harmoni selama praktik tersebut tidak merugikan dan justru memberikan manfaat.

Gunung Kawi, yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Blitar, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat ziarah spiritual dan mistis di Indonesia. Lokasi ini sering dikaitkan dengan praktik pesugihan, sebuah kepercayaan populer yang mengklaim dapat mendatangkan kekayaan secara instan melalui ritual-ritual tertentu, tak jarang dengan dugaan penggunaan tumbal. Kompleks Makam Eyang Jugo dan Eyang Sujud, dua tokoh yang diyakini sebagai pendiri dan penyebar ajaran di sana pada abad ke-19, menjadi magnet utama bagi para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan mancanegara. Mereka datang dengan beragam tujuan, mulai dari mencari berkah, memohon rezeki, hingga sekadar merasakan atmosfer spiritual yang kental.

Citra mistis Gunung Kawi ini semakin menguat seiring waktu, diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita rakyat dan kesaksian lisan. Ritual-ritual yang dilakukan di sana, seperti semadi, pemberian sesajen, hingga pembacaan mantra, menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman spiritual para peziarah. Meskipun seringkali menuai kontroversi dan kritik dari sudut pandang agama formal atau rasionalitas modern, keberadaan Gunung Kawi sebagai situs spiritual tetap bertahan dan memiliki pengikut setianya. Ini mencerminkan betapa kuatnya akar kepercayaan lokal dan sinkretisme dalam masyarakat Indonesia.

Namun, fenomena Gunung Kawi belakangan ini kembali mencuat ke permukaan publik, bahkan menjadi viral, berkat kunjungan Marcel Radhival, yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah. Sosok Pesulap Merah dikenal luas karena misinya untuk membongkar praktik-praktik perdukunan dan hal-hal gaib yang dianggapnya sebagai tipuan atau penipuan. Kunjungannya ke Gunung Kawi adalah bagian dari upaya investigasinya untuk mengungkap dugaan adanya pesugihan dan penggunaan tumbal yang selama ini santer terdengar. Dalam unggahan kontennya, Pesulap Merah secara gamblang menunjukkan ketertarikannya untuk menggali lebih dalam mengenai kebenaran di balik mitos-mitos yang menyelimuti Gunung Kawi.

Selama kunjungannya, Pesulap Merah tidak hanya sekadar merekam dan mengamati, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para juru kunci atau kuncen setempat. Melalui serangkaian wawancara dan dialog, ia mencoba mendapatkan informasi valid dan klarifikasi mengenai praktik-praktik yang dituduhkan. Pendekatan ini, meskipun kontroversial bagi sebagian pihak, berhasil memicu diskusi publik yang lebih luas, membawa fenomena Gunung Kawi dari ranah kepercayaan lokal ke panggung perdebatan nasional. Konten Pesulap Merah telah dilihat jutaan kali, memicu beragam komentar, mulai dari dukungan atas upayanya membongkar penipuan hingga kritik karena dianggap tidak menghargai kearifan lokal.

Menanggapi gejolak ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pandangannya seusai acara penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, pada Senin (6/7/2026). Konteks acara tersebut sendiri sangat relevan, menunjukkan pengakuan negara terhadap keberagaman keyakinan dan spiritualitas di luar agama-agama resmi. Dalam kesempatan itu, Fadli Zon menegaskan bahwa fenomena di Gunung Kawi adalah cerminan dari keberagaman Indonesia, sebuah "mozaik dari tradisi dan budaya lama" yang menjadi bagian integral dari identitas bangsa.

Pandangan Fadli Zon ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang lanskap budaya Indonesia yang pluralistik. Indonesia adalah rumah bagi ribuan suku bangsa dengan tradisi, adat istiadat, dan sistem kepercayaan yang beraneka ragam. Dari animisme, dinamisme, hingga kepercayaan lokal seperti Kejawen, Sunda Wiwitan, atau Marapu, semua membentuk jalinan kompleks yang tidak bisa disederhanakan. Gunung Kawi, dengan segala misteri dan ritualnya, adalah salah satu contoh nyata bagaimana tradisi spiritual masa lalu masih hidup dan dipertahankan hingga kini, meskipun seringkali beriringan dengan modernisasi dan globalisasi.

Politikus senior Partai Gerindra itu lebih lanjut menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki pendekatan dan pemahaman masing-masing dalam berinteraksi dengan kebudayaan. Baginya, esensi dari sebuah tradisi atau kepercayaan terletak pada dampak yang dihasilkannya. Fadli Zon menekankan bahwa selama fenomena tersebut dapat "memberikan kebaikan" dan secara spesifik "mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat," serta "tidak mengganggu, tidak merusak," maka hal itu patut dihargai sebagai bagian dari realitas kehidupan. Pernyataan ini menunjukkan sikap yang akomodatif terhadap kearifan lokal, tetapi tetap dengan batasan yang jelas demi kepentingan bersama.

Konsep "memberikan kebaikan" dalam konteks ini bisa diinterpretasikan secara luas. Bagi para penganutnya, praktik di Gunung Kawi mungkin memberikan ketenangan batin, harapan, atau bahkan rasa komunitas dan identitas. Kepercayaan pada kekuatan supranatural atau spiritual seringkali menjadi sandaran bagi individu yang mencari jawaban atau solusi di tengah ketidakpastian hidup. Selama praktik tersebut tidak menjurus pada eksploitasi, penipuan, atau tindakan kriminal, maka "kebaikan" personal atau komunal dapat diakui. Ini adalah pendekatan pragmatis yang menghargai nilai-nilai tak kasat mata yang mungkin ada dalam sebuah tradisi.

Lebih jauh, aspek "ekonomi budaya" yang disebutkan Fadli Zon menjadi poin krusial. Situs-situs seperti Gunung Kawi, terlepas dari kontroversinya, seringkali menjadi daya tarik wisata spiritual atau mistis yang signifikan. Kehadiran peziarah dan pengunjung dari berbagai daerah secara langsung maupun tidak langsung menggerakkan roda perekonomian lokal. Pedagang makanan, penyedia penginapan, penjual sesajen dan suvenir, serta jasa pemandu atau transportasi, semuanya mendapatkan manfaat ekonomi. Ini menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar, yang mungkin tidak tersedia jika situs tersebut tidak memiliki daya tarik spiritual. Dari sudut pandang Kementerian Kebudayaan, potensi ekonomi yang bersumber dari kekayaan budaya dan tradisi ini adalah aset yang perlu dikelola dan dilindungi.

Namun, Fadli Zon juga memberikan batasan penting: praktik tersebut harus "tidak mengganggu" dan "tidak merusak." Ini adalah filter etika dan sosial yang krusial. "Tidak mengganggu" dapat diartikan tidak menciptakan konflik sosial, tidak meresahkan masyarakat luas, dan tidak melanggar hak-hak orang lain. Sementara "tidak merusak" merujuk pada tidak merusak lingkungan, tidak merusak tatanan moral, dan tidak merusak integritas individu, seperti dalam kasus dugaan tumbal atau eksploitasi. Batasan ini sangat relevan mengingat kritik yang sering dialamatkan pada praktik pesugihan yang kadang melibatkan penipuan atau bahkan tindakan kejahatan yang melanggar hukum.

Pernyataan Fadli Zon ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk menyeimbangkan antara pelestarian warisan budaya dan penegakan nilai-nilai universal. Di satu sisi, Kementerian Kebudayaan memiliki mandat untuk melindungi dan mempromosikan seluruh bentuk kebudayaan Indonesia, termasuk tradisi spiritual yang berusia ratusan tahun. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi warga negara dari praktik-praktik yang merugikan atau ilegal. Oleh karena itu, sikap moderat dan akomodatif yang disampaikan Fadli Zon mencoba menjembatani dua kutub kepentingan ini, menegaskan bahwa keberagaman bukan berarti tanpa batas, melainkan dengan koridor etika dan hukum.

Fenomena Gunung Kawi dan respons Fadli Zon adalah mikrokosmos dari tantangan yang lebih besar dalam mengelola keberagaman di Indonesia. Bagaimana sebuah negara yang begitu kaya akan tradisi dan kepercayaan dapat memastikan bahwa semua elemen budayanya dihargai, sementara pada saat yang sama melindungi warganya dari potensi eksploitasi? Peran media sosial, seperti yang dimanfaatkan Pesulap Merah, juga menjadi faktor penting. Media sosial mampu mengangkat isu-isu lokal ke kancah nasional dalam sekejap, memicu perdebatan, dan memaksa otoritas untuk memberikan respons.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di Gunung Kawi adalah sebuah pengingat akan kompleksitas identitas Indonesia. Sebuah negara di mana modernitas berjalan beriringan dengan tradisi kuno, di mana rasionalitas ilmiah berdialog dengan kepercayaan spiritual. Sikap Fadli Zon menunjukkan bahwa solusi terbaik mungkin bukan dengan menghapus atau menolak, melainkan dengan memahami, mengatur, dan membimbing, memastikan bahwa tradisi-tradisi tersebut tetap relevan dan bermanfaat tanpa merugikan siapa pun. Dengan demikian, mozaik budaya Indonesia akan terus bersinar, kaya akan warna dan makna, sembari tetap menjaga kebaikan dan harmoni bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bagikan: