Pacunews.Com, Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru menyusul pernyataan provokatif dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang secara terbuka menargetkan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran yang baru dilantik, Mojtaba Khamenei. Ancaman eksplisit ini, yang disampaikan melalui saluran media dan media sosial, segera memicu respons keras dari Teheran, yang bersumpah akan memberikan "tanggapan keras dan segera" jika Israel berani melancarkan tindakan tersebut. Insiden ini menambah daftar panjang konfrontasi antara dua musuh bebuyutan regional, membawa potensi konflik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama setelah pembunuhan ayah Mojtaba, Ali Khamenei, dalam serangan Israel beberapa bulan sebelumnya.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, melalui pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Israel, Ynet, pada Senin (29/6), menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei telah "menjadi target pembunuhan." Pernyataan ini bukan sekadar retorika kosong; ia datang dari pejabat tinggi pertahanan Israel, yang mengindikasikan bahwa ini adalah bagian dari strategi keamanan nasional mereka. Katz sebelumnya juga telah menggunakan platform X (sebelumnya Twitter) untuk memperingatkan bahwa "pemimpin mana pun yang ditunjuk" oleh Teheran "untuk melanjutkan rencana menghancurkan Israel, mengancam AS serta dunia bebas dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran—akan menjadi target mutlak untuk dilenyapkan." Pernyataan ini menunjukkan kebijakan tanpa kompromi Israel terhadap siapa pun yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial, dan kini telah secara spesifik menunjuk pada pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Reaksi Iran tidak butuh waktu lama. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, segera menanggapi ancaman Israel melalui akun X-nya, dengan nada yang penuh peringatan. "POTUS (Presiden AS Donald Trump) telah berkomitmen untuk membungkam 'hewan peliharaan' mereka di Tel Aviv," tulis Araghchi, menyiratkan bahwa Amerika Serikat memiliki pengaruh untuk mengendalikan tindakan Israel. Namun, ia menambahkan ancaman tegas: "Jika mereka mengabaikan majikan mereka, Iran akan memberi mereka pelajaran. Ancaman apa pun terhadap rakyat dan kepemimpinan kami akan dibalas dengan tanggapan keras dan segera." Pernyataan ini bukan hanya ditujukan kepada Israel, tetapi juga sebagai pesan terselubung kepada Amerika Serikat, agar tidak mengabaikan eskalasi yang terjadi. Iran tampaknya ingin menekankan bahwa mereka tidak akan gentar menghadapi tekanan dan siap membalas setiap agresi.
Konteks di balik ancaman ini sangat krusial. Mojtaba Khamenei belum terlihat di depan umum sejak dilantik pada awal Maret, menyusul pembunuhan pendahulu sekaligus ayahnya, Ali Khamenei, dalam serangan Israel pada akhir Februari. Kematian Ali Khamenei sendiri adalah peristiwa yang mengguncang kawasan, mengingat posisinya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dan simbol revolusi. Pembunuhannya dianggap sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kedaulatan Iran dan memicu kemarahan besar. Oleh karena itu, ancaman terhadap Mojtaba, yang baru saja mengisi posisi ayahnya dan mungkin masih dalam masa pemulihan atau konsolidasi kekuasaan, dianggap sebagai provokasi yang sangat serius dan berbahaya.
Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei di mata publik sejak dilantik telah memicu berbagai spekulasi. Laporan-laporan mengindikasikan bahwa ia mungkin terluka dalam pengeboman yang menewaskan ayahnya. Sejak saat itu, komunikasinya sebagian besar dilakukan melalui pernyataan yang dibacakan oleh penyiar berita di lembaga penyiaran negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Kondisi kesehatannya dan kemampuannya untuk memimpin negara di tengah krisis regional telah menjadi pertanyaan. Namun, akhir bulan ini, pihak berwenang akan menggelar upacara pemakaman bagi Ali Khamenei mulai 4 Juli hingga 9 Juli di berbagai kota di Iran dan Irak. Pentingnya rangkaian acara tersebut memicu spekulasi bahwa Mojtaba mungkin akan muncul di hadapan publik untuk pertama kalinya, sebuah momen yang bisa menjadi penentu bagi legitimasi kepemimpinannya dan juga berpotensi menjadi target bagi musuh.
Ancaman Israel terhadap Mojtaba Khamenei harus dipahami dalam kerangka konflik panjang dan kompleks antara kedua negara. Israel memandang program nuklir Iran, dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan (seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan milisi Syiah di Irak dan Suriah), serta retorika anti-Israel Iran sebagai ancaman eksistensial. Israel telah lama menerapkan kebijakan untuk menggagalkan kemampuan Iran melalui berbagai cara, termasuk serangan siber, sabotase, dan pembunuhan target-target kunci yang terkait dengan program nuklir atau militer Iran. Pembunuhan Ali Khamenei adalah eskalasi yang signifikan, menunjukkan kesediaan Israel untuk menargetkan figur politik tertinggi. Dengan menargetkan Mojtaba, Israel mengirimkan pesan bahwa tidak ada pemimpin Iran yang aman jika mereka dianggap mengancam keamanan Israel.
Di sisi lain, Iran melihat Israel sebagai perpanjangan tangan imperialisme Barat di Timur Tengah dan sebagai entitas yang secara ilegal menduduki tanah Palestina. Iran juga memiliki kepentingan strategis untuk memperluas pengaruhnya di kawasan dan mendukung "poros perlawanan" terhadap Israel dan Amerika Serikat. Bagi Iran, setiap serangan terhadap kepemimpinan mereka adalah pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat ditoleransi dan memerlukan pembalasan yang setimpal. "Tanggapan keras dan segera" yang diancamkan Iran bisa mengambil berbagai bentuk. Ini bisa berarti serangan rudal balistik atau drone terhadap target militer atau infrastruktur di Israel, mengaktifkan proksi-proksinya untuk melancarkan serangan serentak dari berbagai front, atau bahkan tindakan yang dapat mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, yang akan memiliki implikasi ekonomi global yang serius.
Peran Amerika Serikat dalam dinamika ini juga sangat penting. Araghchi secara spesifik menyebut "POTUS," merujuk pada Presiden Amerika Serikat. Ini menunjukkan keyakinan Iran bahwa AS memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, jika tidak mengendalikan, tindakan Israel. Sejarah hubungan AS-Israel yang erat, terutama dalam bidang militer dan intelijen, memang sering menjadi sorotan. Namun, pada saat yang sama, AS seringkali berupaya meredakan ketegangan di kawasan, terutama jika eskalasi dapat mengancam stabilitas regional dan kepentingan AS sendiri. Jika ancaman pembunuhan terhadap Mojtaba Khamenei benar-benar terwujud, AS akan menghadapi tekanan diplomatik yang sangat besar untuk merespons dan mencegah konflik regional yang lebih luas.
Implikasi dari pembunuhan pemimpin tertinggi Iran akan sangat luas dan destabilisasi. Ini tidak hanya akan memicu pembalasan langsung dari Iran, tetapi juga dapat memicu siklus kekerasan yang sulit dihentikan. Kematian seorang pemimpin spiritual dan politik tertinggi dapat menyatukan rakyat Iran dalam kemarahan dan memicu gelombang perlawanan yang lebih kuat terhadap Israel dan sekutunya. Ini juga dapat mendorong Iran untuk mempercepat program nuklirnya sebagai pencegah utama terhadap agresi lebih lanjut. Kawasan Timur Tengah, yang sudah rapuh karena konflik yang berkepanjangan, dapat terjerumus ke dalam perang skala penuh yang melibatkan banyak aktor regional dan internasional.
Peristiwa ini juga menyoroti strategi yang digunakan oleh kedua belah pihak. Israel tampaknya semakin berani dalam operasi rahasia dan terang-terangan untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Sementara itu, Iran, meskipun menghadapi sanksi dan tekanan, terus menunjukkan ketahanan dan kesiapan untuk membela diri. Dunia internasional, termasuk PBB dan kekuatan besar lainnya, harus memainkan peran aktif dalam meredakan ketegangan ini. Retorika perang dan ancaman pembunuhan tidak akan membawa perdamaian, melainkan hanya akan memperdalam jurang permusuhan dan meningkatkan risiko konflik yang menghancurkan.
Dalam beberapa minggu ke depan, perhatian akan tertuju pada upacara pemakaman Ali Khamenei dan kemungkinan kemunculan Mojtaba Khamenei di depan publik. Momen ini bisa menjadi titik balik, baik untuk mengukuhkan kepemimpinannya maupun menjadi pemicu eskalasi lebih lanjut. Komunitas internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri, mengurangi retorika yang menghasut, dan mencari solusi diplomatik untuk mencegah bencana. Namun, mengingat sejarah panjang permusuhan dan taruhan yang tinggi, prospek untuk de-eskalasi tampaknya suram. Ketegangan antara Iran dan Israel telah mencapai titik kritis, dan dunia menahan napas, khawatir akan konsekuensi yang mungkin timbul dari ancaman dan balasan yang terus-menerus.