Pacunews.Com, - Di tengah gemuruh ombak dan potensi wisata bahari yang menawan, sebuah ironi menyelimuti Pulau Tunda, sebuah permata tersembunyi di Kabupaten Serang, Banten. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang seharusnya menjadi mercusuar harapan energi bersih dan mandiri bagi ratusan kepala keluarga di sana, kini justru teronggok tak berdaya, menjadi saksi bisu atas padamnya impian akan penerangan yang stabil dan berkelanjutan. Kondisi PLTS yang rusak parah ini telah memaksa warga kembali bergantung sepenuhnya pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang usang, memicu keluhan panjang dan seruan mendesak kepada pemerintah untuk segera bertindak.
Pulau Tunda, yang secara administratif termasuk dalam Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, adalah sebuah pulau kecil yang dihuni oleh sekitar 300 kepala keluarga dengan mata pencarian utama sebagai nelayan dan sebagian kecil bergerak di sektor pariwisata. Keterpencilan geografis pulau ini seharusnya menjadi alasan kuat untuk mengadopsi solusi energi terbarukan seperti PLTS. Proyek PLTS yang dibangun beberapa tahun lalu sejatinya adalah jawaban atas kebutuhan energi yang mendesak, menjanjikan kemandirian energi dan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, janji itu kini tinggal kenangan, berganti dengan pasokan listrik yang tidak stabil, bahkan seringkali terhenti total, mengubah malam-malam di Pulau Tunda menjadi kegelapan pekat yang memilukan.
Mamat (43), seorang warga Pulau Tunda yang telah lama merasakan pahitnya hidup tanpa listrik yang memadai, mengungkapkan keresahannya. Ia menyebutkan bahwa ketergantungan pada PLTD telah menjadi momok yang tak kunjung usai. “Listrik kami sekarang hanya mengandalkan diesel. Itu pun sangat tidak stabil karena tergantung pada ketersediaan solar. Kalau stok solar menipis atau mesin ada gangguan sedikit, langsung mati lampu,” keluh Mamat kepada Pacunews.Com, Sabtu (9/5/2026). Masalah ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi telah merambah ke berbagai aspek kehidupan warga, menghambat aktivitas sehari-hari, pendidikan anak-anak, bahkan potensi ekonomi pulau.
Dampak paling kentara dari ketiadaan listrik yang stabil adalah terputusnya akses komunikasi dan informasi. “Kalau listrik mati, tower sinyal juga ikut mati. Akibatnya, warga jadi susah sinyal dan internet. Jangankan mau berkomunikasi dengan keluarga di luar pulau, untuk sekadar mencari informasi atau mengakses layanan dasar online saja sulit sekali,” imbuhnya. Di era digital ini, akses internet dan komunikasi yang lancar adalah kebutuhan primer, bahkan bagi masyarakat di pulau terpencil sekalipun. Ketiadaan sinyal yang berkelanjutan bukan hanya mengisolasi warga secara sosial, tetapi juga menghambat pengembangan potensi wisata pulau yang membutuhkan promosi dan konektivitas. Para nelayan juga kesulitan mendapatkan informasi cuaca terkini yang sangat vital bagi keselamatan mereka di laut.
Secara normal, listrik dari PLTD seharusnya menyala mulai pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB keesokan harinya. Namun, jadwal ideal tersebut kini hanyalah angan-angan. Belakangan ini, Mamat menjelaskan, jadwal penerangan kerap berubah secara drastis akibat gangguan mesin yang sering terjadi dan keterbatasan stok solar. “Kadang baru jam 11 malam sudah mati. Pernah juga habis magrib nyala sebentar lalu mati lagi karena trouble mesin atau solar habis. Ini sangat mengganggu aktivitas kami,” ujarnya dengan nada putus asa. Bayangkan saja, anak-anak yang sedang belajar di malam hari harus berhenti mendadak karena lampu padam, atau ibu-ibu yang sedang menyiapkan makan malam terpaksa melanjutkan dalam gelap. Kualitas hidup masyarakat jelas menurun drastis akibat kondisi ini.
Meskipun pasokan listrik seringkali tidak stabil dan jadwalnya tidak menentu, warga Pulau Tunda secara rutin tetap membayar iuran listrik harian. Besaran iuran ini bervariasi, mulai dari Rp 5.500 hingga Rp 15 ribu per malam, tergantung pada penggunaan alat elektronik di masing-masing rumah. Ini menunjukkan betapa besar harapan dan keinginan warga untuk mendapatkan penerangan yang layak. “Warga antusias bayar iuran listrik, yang penting iurannya dipakai untuk perawatan dan kebutuhan listrik,” tegas Mamat. Ironisnya, di tengah pengorbanan finansial warga, fasilitas PLTD yang ada justru semakin sering bermasalah, sementara PLTS yang menjanjikan solusi jangka panjang malah terbengkalai. Biaya operasional PLTD yang mahal, terutama untuk pengadaan solar, juga menjadi beban bagi pengelola dan secara tidak langsung kepada warga. Harga solar untuk kebutuhan pulau terpencil seringkali lebih tinggi karena biaya transportasi.
Harapan terbesar masyarakat Pulau Tunda saat ini adalah perbaikan fasilitas tenaga surya yang sebelumnya pernah digunakan sebagai sumber listrik utama di wilayah tersebut. Menurut Mamat, masalah pada PLTS sebenarnya tidak terlalu kompleks. “Tenaga suryanya sebenarnya masih bagus, panel-panelnya masih berfungsi. Cuma baterai dan instalasinya yang rusak. Kalau diperbaiki, listrik bisa nyala lagi dan lebih stabil,” kata Mamat optimis. Pernyataan ini memberikan secercah harapan bahwa solusi untuk masalah listrik di Pulau Tunda sebenarnya tidak terlalu jauh. Kerusakan pada baterai dan instalasi (seperti inverter atau sistem kontrol) adalah masalah umum pada PLTS yang sudah beroperasi beberapa waktu, terutama jika tidak ada pemeliharaan rutin. Baterai memiliki masa pakai tertentu, dan lingkungan pulau yang lembap serta korosif dapat mempercepat kerusakan komponen elektronik.
Fakta bahwa panel surya masih berfungsi menunjukkan bahwa investasi awal yang besar pada infrastruktur energi terbarukan ini belum sepenuhnya sia-sia. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan perbaikan pada komponen krusial seperti baterai penyimpanan energi dan sistem instalasi pendukungnya. Penggantian baterai dengan teknologi terbaru yang lebih efisien dan tahan lama, serta perbaikan atau penggantian inverter yang rusak, bisa menjadi kunci untuk menghidupkan kembali PLTS ini. Dengan perbaikan yang tepat, Pulau Tunda bisa kembali menikmati listrik 24 jam penuh dari energi bersih, mengurangi ketergantungan pada solar, dan sekaligus berkontribusi pada target energi terbarukan nasional.
Mamat dan seluruh warga Pulau Tunda berharap agar pemerintah daerah maupun pusat segera memberikan perhatian serius terhadap persoalan listrik yang telah membelenggu kehidupan mereka selama ini. “Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat segera memberikan perhatian serius terhadap persoalan listrik di Pulau Tunda. Ini bukan sekadar masalah lampu padam, tapi juga menyangkut hak kami untuk mendapatkan akses energi yang layak,” tambahnya. Seruan ini bukan hanya permintaan, tetapi juga penegasan akan hak dasar warga negara untuk mendapatkan fasilitas publik yang memadai, terutama di daerah terpencil yang seringkali luput dari perhatian. Pemerintah memiliki amanat untuk memastikan pemerataan pembangunan, termasuk akses energi, hingga ke pelosok negeri.
Lebih lanjut, Mamat menyoroti salah satu masalah krusial yang menjadi akar dari kerusakan yang merambat, yaitu minimnya tenaga teknis yang memahami pengelolaan fasilitas listrik. “Kami juga punya masalah krusial dalam pengelolaannya, yaitu tenaga teknis perawatan yang bukan ahli. Pengurus hanya tahu menyalakan dan mematikan mesin. Jadi kalau ada kerusakan sedikit akhirnya merambat dan menjadi kerusakan besar karena tidak ada yang bisa menangani dengan benar,” imbuhnya. Ini adalah masalah klasik di banyak proyek infrastruktur di daerah terpencil: pembangunan fisik yang megah, namun tanpa diimbangi dengan sumber daya manusia yang kompeten untuk operasional dan pemeliharaan jangka panjang. Akibatnya, aset bernilai tinggi cepat rusak dan terbengkalai.
Ketiadaan tenaga ahli yang mumpuni di Pulau Tunda berarti bahwa setiap kerusakan kecil pada PLTS maupun PLTD tidak dapat segera diidentifikasi dan diperbaiki. Sebuah komponen kecil yang rusak, jika dibiarkan, dapat memicu kerusakan pada sistem yang lebih besar, menyebabkan biaya perbaikan menjadi jauh lebih mahal. Pelatihan dan pemberdayaan masyarakat lokal untuk menjadi teknisi listrik yang handal bisa menjadi solusi jangka panjang. Dengan adanya teknisi lokal, masalah dapat ditangani dengan cepat, biaya operasional dan pemeliharaan dapat ditekan, dan keberlanjutan proyek energi dapat terjamin. Ini juga akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Pulau Tunda.
Revitalisasi PLTS di Pulau Tunda bukan hanya tentang menyediakan listrik, tetapi juga tentang mengangkat harkat dan martabat masyarakatnya. Listrik yang stabil akan membuka banyak peluang: anak-anak bisa belajar lebih nyaman, nelayan bisa menyimpan hasil tangkapannya lebih lama dengan lemari pendingin, pengusaha kecil bisa menjalankan usahanya, dan potensi pariwisata pulau bisa digali lebih optimal. Ketersediaan listrik 24 jam akan menarik wisatawan, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Pulau Tunda bisa menjadi model keberhasilan energi terbarukan di pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia.
Pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, harus segera menanggapi keluhan ini dengan serius. Langkah-langkah konkret yang bisa diambil antara lain: pertama, melakukan audit menyeluruh terhadap kondisi PLTS yang ada untuk mengidentifikasi secara pasti kerusakan pada baterai dan instalasi. Kedua, mengalokasikan anggaran yang memadai untuk perbaikan dan penggantian komponen yang rusak, serta peningkatan kapasitas PLTS jika memungkinkan. Ketiga, menyusun program pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat lokal agar dapat menjadi tenaga teknis yang kompeten dalam pengelolaan dan pemeliharaan PLTS. Keempat, merumuskan model pengelolaan energi yang berkelanjutan, mungkin melibatkan kerjasama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal.
Kasus Pulau Tunda adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar dalam upaya elektrifikasi dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia, khususnya di daerah kepulauan. Infrastruktur yang dibangun harus didukung oleh sistem manajemen, pemeliharaan, dan sumber daya manusia yang kuat agar dapat berfungsi optimal dan berkelanjutan. Dengan perhatian serius dan tindakan nyata, impian warga Pulau Tunda untuk hidup dalam terang benderang dari energi surya yang bersih dan mandiri dapat kembali terwujud, menjadikan pulau ini bukan hanya indah secara alamiah, tetapi juga maju dan berdaya.