Memuat update terbaru...
Berita Terbaru

Militer AS Tuding Serangan Iran 300 Kali Targetkan Warga Sipil

Yuni Winarti

Jurnalis

Yuni Winarti

Militer AS Tuding Serangan Iran 300 Kali Targetkan Warga Sipil

Pacunews.Com, - Pernyataan Laksamana Madya Cooper ini bukan sekadar retorika diplomatik; ia juga memberikan analisis mendalam tentang perubahan pola serangan Iran. Ia menyoroti perbedaan mencolok antara awal konflik dan situasi saat ini. "Pada awal konflik, Anda melihat volume besar puluhan drone dan rudal. Anda tidak lagi melihat itu. Semuanya satu atau dua sekaligus," ujar Cooper, mengindikasikan bahwa kemampuan Iran untuk meluncurkan serangan berskala besar telah terkikis secara drastis. Perubahan ini, menurut CENTCOM, adalah bukti nyata dari melemahnya kapasitas ofensif Iran, mendorong mereka untuk mengadopsi taktik yang lebih sporadis namun lebih kejam, yakni menargetkan infrastruktur sipil dan warga non-kombatan. Serangan-serangan yang disebutkan Cooper, yang mencapai angka 300 kali, mencakup berbagai bentuk, mulai dari serangan drone kamikaze, rudal jelajah jarak pendek, hingga serangan roket yang seringkali dilakukan oleh kelompok-kelompok proksi yang didukung Iran di Yaman, Irak, Suriah, dan Lebanon. Penargetan sipil dianggap sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan merupakan indikator dari frustrasi strategis Iran di tengah tekanan yang terus meningkat dari Amerika Serikat dan sekutunya. Tuduhan ini juga menggarisbawahi upaya Washington untuk memaparkan apa yang mereka anggap sebagai pola perilaku agresif dan tidak stabil dari Teheran di kawasan yang sudah bergejolak.

Penilaian AS tentang kemampuan militer Iran yang memburuk tidak hanya didasarkan pada pengamatan pola serangan, tetapi juga pada data intelijen yang dikumpulkan secara ekstensif. Pemerintahan AS menyatakan bahwa kapasitas penembakan Iran telah berkurang secara dramatis dalam beberapa waktu terakhir. Pentagon, markas besar Departemen Pertahanan AS, merilis data pada minggu pertama bulan Maret yang menunjukkan penurunan signifikan dalam aktivitas militer Iran. Peluncuran rudal dilaporkan turun 90 persen dari hari pertama pertempuran, sementara serangan drone anjlok 86 persen. Angka-angka ini, jika akurat, menandakan pukulan telak terhadap kemampuan Iran untuk mempertahankan operasi militer berskala besar atau memproyeksikan kekuatan secara efektif melalui jalur konvensional. Penurunan drastis ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk dampak sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan kemampuan Iran untuk memperoleh komponen penting dan teknologi canggih, operasi intelijen dan serangan siber yang dilakukan oleh AS dan sekutunya, serta kemungkinan kerusakan pada infrastruktur militer Iran akibat serangan sebelumnya. AS dan Israel, misalnya, telah lama dituduh melakukan sabotase terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran.

Kemerosotan kemampuan militer Iran ini memiliki implikasi yang luas bagi dinamika keamanan regional. Iran telah lama mengandalkan jaringan proksi dan milisi bersenjata di seluruh Timur Tengah untuk memperluas pengaruhnya dan menantang kepentingan AS serta sekutunya, termasuk Israel dan negara-negara Teluk Arab. Dengan berkurangnya kemampuan Iran untuk memasok dan mendukung proksi-proksi ini dengan senjata canggih dalam volume besar, daya tawar dan kekuatan ofensif kelompok-kelompok seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan berbagai milisi di Irak dan Suriah kemungkinan besar juga akan terpengaruh. Namun, penurunan ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Dalam keputusasaan, Iran mungkin akan semakin mengandalkan taktik asimetris dan penargetan sipil, seperti yang dituduhkan oleh CENTCOM, untuk tetap relevan dan menimbulkan kerugian pada lawan-lawannya. Ini mencerminkan pergeseran dari upaya unjuk kekuatan militer yang terkoordinasi menjadi tindakan yang lebih acak namun bertujuan untuk menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan psikologis.

Sebagai respons terhadap ancaman yang terus-menerus dan untuk melemahkan kemampuan Iran, militer AS secara aktif menargetkan lokasi-lokasi strategis yang terkait dengan produksi militer Iran. Salah satu contoh terbaru adalah serangan terhadap fasilitas produksi mesin turbin di provinsi Qom, wilayah tengah utara Iran. CENTCOM mengungkapkan bahwa pabrik ini berperan krusial dalam memproduksi mesin turbin gas yang digunakan untuk komponen drone serang dan pesawat terbang, yang secara spesifik digunakan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). IRGC adalah cabang militer paling elit dan kuat di Iran, yang bertanggung jawab atas operasi di luar negeri dan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi. Penargetan fasilitas seperti ini menunjukkan fokus AS pada upaya untuk memutus rantai pasokan dan kemampuan Iran dalam memproduksi senjata-senjata kunci, khususnya drone yang telah terbukti menjadi alat efektif bagi Iran dan proksinya dalam menyerang target-target di kawasan. Drone-drone ini, termasuk jenis Shahed, telah digunakan dalam berbagai serangan terhadap kapal tanker, instalasi minyak, dan bahkan dalam konflik di Ukraina, yang diklaim oleh intelijen Barat.

Dalam sebuah unggahan di platform X, CENTCOM membagikan bukti visual dari serangan tersebut, yang semakin memperkuat klaim mereka. Gambar "sebelum dan sesudah" menunjukkan kondisi fasilitas produksi mesin turbin Qom. Foto yang diambil pada tanggal 6 Maret 2026 memperlihatkan fasilitas tersebut masih utuh, beroperasi tanpa hambatan. Namun, gambar kedua, yang diambil hanya tiga hari kemudian, tampaknya menunjukkan kerusakan parah setelah serangan udara AS. Kerusakan yang terlihat jelas pada citra satelit atau udara ini adalah bukti konkret dari keberhasilan operasi militer AS dalam melumpuhkan bagian penting dari infrastruktur produksi militer Iran. Lokasi Qom, meskipun dikenal sebagai pusat keagamaan dan budaya Syiah di Iran, juga memiliki berbagai fasilitas industri dan militer yang tersebar di sekitarnya. Penargetan fasilitas di Qom ini tidak hanya berdampak pada kemampuan produksi drone Iran tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada Teheran bahwa AS bersedia mengambil tindakan langsung untuk melindungi kepentingannya dan sekutunya di kawasan. Serangan ini juga menyoroti kemampuan intelijen AS dalam mengidentifikasi target-target bernilai tinggi dan kemampuan operasional mereka untuk melancarkan serangan presisi.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama beberapa dekade, dipicu oleh berbagai isu kompleks mulai dari program nuklir Iran, sanksi ekonomi, hingga perang proksi di seluruh Timur Tengah. Setelah penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018, ketegangan semakin meningkat, dengan AS menerapkan sanksi ekonomi yang sangat ketat yang bertujuan untuk melumpuhkan ekonomi Iran dan memaksanya untuk mengubah perilaku regionalnya. Iran, sebagai tanggapan, telah secara bertahap mengurangi kepatuhannya terhadap batasan nuklir dan terus mendukung kelompok-kelompok proksi yang menentang kepentingan AS dan sekutunya. Situasi di Timur Tengah semakin diperumit oleh perang Israel-Hamas yang pecah pada Oktober 2023, yang memicu serangkaian serangan dari kelompok-kelompok pro-Iran terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah, serta serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah. Serangan-serangan ini, yang sebagian besar dilakukan dengan drone dan rudal yang dipasok Iran, telah memaksa AS untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan dan melancarkan serangan balasan untuk mempertahankan diri dan melindungi jalur pelayaran internasional.

Dalam konteks yang lebih luas, tuduhan AS tentang penargetan warga sipil oleh Iran juga harus dilihat dalam kerangka upaya Washington untuk mengisolasi Teheran secara diplomatik dan membangun dukungan internasional untuk tindakan pengekangan lebih lanjut. Meskipun Iran secara konsisten membantah tuduhan semacam itu dan seringkali menuduh AS dan sekutunya melakukan intervensi destabilisasi di kawasan, bukti-bukti yang disajikan oleh CENTCOM, terutama citra satelit, memberikan bobot pada klaim AS. Penargetan warga sipil, jika terbukti benar, tidak hanya merupakan pelanggaran hukum internasional tetapi juga taktik yang dirancang untuk menimbulkan teror dan kekacauan, yang seringkali menjadi ciri khas kelompok-kelompok non-negara atau aktor negara yang merasa terdesak. Ini mengindikasikan bahwa Iran mungkin merasa semakin terpojok oleh tekanan ekonomi dan militer, sehingga mendorongnya untuk mengadopsi strategi yang lebih berisiko dan tidak etis.

Ke depan, prospek hubungan AS-Iran tetap suram, dengan potensi eskalasi yang tinggi. Tuduhan baru ini dan serangan balasan AS terhadap fasilitas produksi militer Iran menunjukkan bahwa kedua belah pihak berada dalam siklus aksi dan reaksi yang berbahaya. Washington kemungkinan akan terus menekan Iran melalui sanksi, operasi militer terbatas, dan dukungan terhadap oposisi regional, sementara Teheran mungkin akan terus mengandalkan proksinya dan taktik asimetris untuk mempertahankan pengaruhnya. Komunitas internasional akan terus mengamati perkembangan ini dengan cermat, dengan kekhawatiran yang meningkat tentang potensi konflik yang lebih luas di kawasan yang sudah rapuh. Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan tampaknya masih menemui jalan buntu, dan situasi ini diperkirakan akan terus menjadi sumber ketidakstabilan global dalam waktu dekat.

Bagikan: