Pacunews.Com, - Dinamika politik pasca-Pemilihan Presiden 2024 terus menghadirkan berbagai nuansa, terutama dalam komunikasi antar-elite partai. Sorotan terbaru tertuju pada respons Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap pujian yang dilontarkan Partai Gerindra kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Pujian tersebut datang dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, yang mengapresiasi sikap kenegarawanan Presiden ke-5 RI itu. Namun, apresiasi ini tidak serta-merta tanpa catatan, sebab PDIP secara tegas menolak narasi perbandingan yang dilakukan Gerindra antara Megawati dengan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian PDIP dalam menerima pujian sekaligus menegaskan batasan-batasan dalam diskursus politik, khususnya yang berkaitan dengan posisi dan citra pemimpin tertinggi mereka.
Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira, menyambut baik apresiasi yang disampaikan Habiburokhman. Dalam pernyataannya, Andreas mengucapkan terima kasih atas pujian yang diberikan Gerindra terkait sikap kenegarawanan Megawati, terutama dalam konteks kesediaannya untuk tetap menjalin komunikasi dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto, meskipun PDIP memilih berada di luar pemerintahan. Andreas menegaskan bahwa hubungan pribadi antara Megawati dan Prabowo memang telah terjalin baik sejak lama dan tetap terjaga hingga kini. "Terima kasih untuk pujian ini. Tetapi ini bukan hal baru, hubungan pribadi Ibu Megawati dan Pak Prabowo dari dulu baik dan tetap baik," kata Andreas saat dihubungi pada Rabu (3/6/2026), menunjukkan bahwa keharmonisan personal ini adalah sesuatu yang fundamental dan tidak baru dalam kancah politik nasional.
Namun, Andreas Hugo Pareira juga menyampaikan keberatannya terhadap upaya Gerindra untuk membandingkan sikap Megawati dengan Dino Patti Djalal. Menurutnya, perbandingan tersebut tidak relevan dan terkesan dipaksakan. Andreas menekankan bahwa konteks dan substansi dari kedua isu yang melibatkan Megawati dan Dino sangat berbeda, sehingga tidak dapat disamakan begitu saja. "Membandingkan Ibu Mega dan Dino Patti Djalal, kayaknya nggak ada hubungannya, urusan Ibu Mega lain, urusan Dino lain," tegas Andreas, menggarisbawahi perbedaan fundamental dalam persoalan yang sedang dibahas. Ia menilai bahwa Habiburokhman terlalu "memaksakan" perbandingan tersebut demi mencapai suatu poin tertentu, padahal kedua figur tersebut bergerak dalam ranah yang berbeda dengan tujuan yang tidak serupa. "Yang membandingkannya agak 'maksain' untuk membuat perbandingan. Konteksnya beda, substansinya juga beda," lanjutnya, memperjelas bahwa upaya menyandingkan keduanya adalah suatu kekeliruan logika dalam argumentasi politik yang justru dapat mengaburkan makna dari pujian itu sendiri.
Pernyataan Habiburokhman yang memicu respons PDIP ini sebelumnya dilontarkan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (2/6). Waketum Gerindra itu secara eksplisit memuji Megawati sebagai sosok negarawan sejati, menyoroti bagaimana ia, meskipun partainya memilih berada di luar pemerintahan, tetap menunjukkan sikap yang elegan dan terhormat. Ini, menurut Habiburokhman, adalah contoh positif dalam menjaga stabilitas politik nasional di tengah perbedaan pandangan.
Dalam konteks pujian tersebut, Habiburokhman secara langsung mengkontraskan sikap Megawati dengan apa yang ia sebut sebagai "kebalikannya" yang ditunjukkan oleh Dino Patti Djalal. Pernyataan ini muncul setelah Habiburokhman menanggapi kritik mantan Wamenlu tersebut terkait kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri. "Ini contoh kebalikannya dari yang ditunjukkan Pak Dino, apa yang Ibu Mega lakukan. Bu Mega itu walaupun di partainya di luar pemerintahan, tetap menunjukkan sikap yang elegan sebagai negarawan," ujar Habiburokhman. Baginya, Megawati telah memperlihatkan penghormatan yang tinggi terhadap Prabowo sebagai presiden yang sedang menjabat, sebuah sikap krusial untuk menjaga martabat institusi kepresidenan dan memupuk budaya politik yang sehat.
Meski demikian, Habiburokhman juga mengakui bahwa kader-kader PDIP di DPR memiliki peran untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah, melihat hal tersebut sebagai bagian wajar dan seharusnya dalam sistem demokrasi. Namun, ia menekankan bahwa sikap Megawati secara pribadi tetaplah menunjukkan keanggunan seorang negarawan. "Sebagai presiden yang pernah menjabat ya, beliau menghormati Pak Prabowo sebagai presiden yang saat ini menjabat. Kalau misalnya dari DPR ada kader-kader Bu Mega menyampaikan kritik, kan itu memang sudah seharusnya," kata Habiburokhman. Ia menambahkan bahwa Megawati memiliki komitmen kuat untuk membatasi polarisasi politik yang kerap terjadi, berbeda dengan narasi yang ia lemparkan kepada Dino Patti Djalal yang ditudingnya "ngompor-ngomporin" atau memperkeruh suasana.
"Bu Mega-nya sendiri itu sangat elegan menghormati posisi Pak Prabowo dan sebagai sesama tokoh bangsa, menunjukkan komitmen yang kuat untuk membatasi polarisasi," tambahnya. Habiburokhman melanjutkan dengan menyebut bahwa sikap bijak Megawati mampu meredam ketegangan dan mencegah bangsa terpecah belah oleh perbedaan politik. Ia lantas menyinggung kembali sosok Dino Patti Djalal, mengindikasikan bahwa tindakan Dino justru berpotensi memperkeruh suasana politik dan menciptakan perpecahan yang tidak perlu. "Bukan malah ngompor-ngomporin seperti Dino, tapi membatasi polarisasi. Jangan sampai bangsa ini selalu terkotak-kotak. Ini contoh yang elegan dari Bu Mega, kita sangat hormat dan respek," katanya, menunjukkan apresiasi yang mendalam terhadap peran Megawati dalam menjaga persatuan bangsa.
Lebih lanjut, Habiburokhman menegaskan bahwa hubungan antara Prabowo dan Megawati berada dalam kondisi yang sangat harmonis. Ia bahkan mengaku telah menjadi saksi bagaimana kedua tokoh elite politik tersebut terus menjalin komunikasi yang sangat baik di level tertinggi, bahkan sejak Prabowo belum menjabat sebagai presiden. "Sangat harmonis, saya sendiri dari dulu ya sejak Pak Prabowo belum Presiden, sering menjadi saksi bagaimana beliau-beliau masih menjalin komunikasi yang amat baik di level paling tinggi," ungkapnya, mengisyaratkan adanya jembatan komunikasi yang kuat di antara dua pemimpin partai besar ini yang melampaui sekat-sekat politik.
Untuk memahami lebih dalam dinamika ini, penting untuk melihat latar belakang figur-figur yang disebut. Dino Patti Djalal adalah seorang diplomat senior yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat dan Wakil Menteri Luar Negeri. Belakangan, Dino dikenal sebagai salah satu kritikus vokal terhadap pemerintahan dan seringkali menyuarakan pandangannya melalui media sosial atau platform publik lainnya. Kritik yang disinggung Habiburokhman kemungkinan besar terkait dengan beberapa pernyataan Dino mengenai kebijakan luar negeri atau kunjungan kenegaraan Prabowo, yang oleh Gerindra dianggap tidak konstruktif atau bahkan memprovokasi. Istilah "ngompor-ngomporin" yang digunakan Habiburokhman mengindikasikan persepsi Gerindra bahwa Dino cenderung memperkeruh suasana atau memperuncing perbedaan alih-alih meredakannya, sebuah pandangan yang jelas berseberangan dengan semangat rekonsiliasi.
Di sisi lain, Megawati Soekarnoputri adalah figur sentral dalam politik Indonesia, tidak hanya sebagai Ketua Umum PDIP tetapi juga sebagai mantan Presiden RI. Posisinya sebagai pemimpin partai yang memenangkan Pemilu Legislatif 2024 namun memilih berada di luar pemerintahan memberikan bobot tersendiri bagi setiap pernyataannya. Hubungan Megawati dan Prabowo Subianto juga memiliki sejarah panjang. Mereka pernah berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2009. Meskipun kemudian berpisah jalan dan menjadi rival politik dalam beberapa pemilihan, komunikasi pribadi keduanya seringkali disebut tetap terjaga. Ini menunjukkan dimensi personal yang melampaui persaingan politik partisan, sebuah warisan yang kini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas politik.
Konteks politik pasca-Pilpres 2024 juga krusial. Indonesia baru saja melewati periode kampanye yang cukup memecah belah dan menciptakan polarisasi di masyarakat. Oleh karena itu, seruan untuk meredam polarisasi dan menjaga persatuan bangsa menjadi sangat relevan dan mendesak. Pujian Gerindra kepada Megawati dapat dilihat sebagai upaya untuk membangun jembatan politik dan meredakan ketegangan. Dengan memuji Megawati sebagai negarawan, Gerindra seolah mengundang PDIP untuk turut serta dalam semangat rekonsiliasi dan pembangunan bangsa, terlepas dari posisi mereka sebagai oposisi, sebuah langkah yang dapat diinterpretasikan sebagai upaya politik untuk menarik PDIP ke dalam orbit kebersamaan nasional.
Sikap PDIP yang menerima pujian namun menolak perbandingan dengan Dino Patti Djalal menunjukkan strategi komunikasi yang cermat dan terencana. Dengan menerima pujian, PDIP secara tidak langsung mengakui citra positif Megawati di mata publik dan bahkan lawan politik. Ini memperkuat narasi tentang kenegarawanan Megawati yang memang selalu ingin ditampilkan oleh PDIP, menegaskan posisinya sebagai tokoh sentral yang dihormati lintas spektrum politik. Namun, penolakan tegas terhadap perbandingan dengan Dino Patti Djalal memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, PDIP ingin menegaskan bahwa gaya dan substansi kritik mereka sebagai oposisi akan berbeda dengan kritik yang dilontarkan oleh individu seperti Dino. PDIP ingin menjaga marwah dan martabat kritik mereka agar tetap konstruktif, berbasis data, dan berbobot, bukan sekadar "mengompori" atau menciptakan kegaduhan tanpa dasar yang kuat.
Kedua, penolakan ini juga dapat diinterpretasikan sebagai upaya PDIP untuk membatasi ruang lingkup pengaruh pihak ketiga dalam mendefinisikan posisi politik mereka. PDIP ingin berdiri sendiri dalam menentukan bagaimana mereka akan berperan sebagai oposisi, tanpa harus disandingkan dengan figur yang mungkin memiliki agenda atau gaya yang berbeda dan berpotensi merusak citra partai. Andreas Hugo Pareira menekankan bahwa "konteksnya beda, substansinya juga beda," menunjukkan bahwa PDIP tidak ingin disamakan dengan kritik yang mungkin dianggap kurang berbobot, tidak relevan, atau terlalu personal. Ini adalah upaya untuk mengontrol narasi dan memastikan bahwa posisi PDIP sebagai kekuatan oposisi yang disegani tetap terjaga.
Bagi Gerindra, pujian kepada Megawati adalah langkah strategis untuk melunakkan oposisi. Dalam situasi di mana koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran sedang terbentuk, mendapatkan dukungan moral atau setidaknya meredam resistensi dari partai sebesar PDIP adalah keuntungan besar. Dengan menyoroti kenegarawanan Megawati, Gerindra berharap dapat mendorong semangat kebersamaan di antara elite politik, sekaligus memberikan pesan kepada publik bahwa perpecahan harus segera diakhiri demi kepentingan bangsa. Namun, upaya menyandingkan Megawati dengan Dino Patti Djalal, meskipun mungkin bertujuan untuk mempertegas kontras antara oposisi konstruktif dan kritik yang dianggap destruktif, justru menciptakan polemik baru. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada keinginan untuk merajut kebersamaan, batas-batas antara kritik yang diterima dan tidak diterima masih sangat sensitif dan menjadi medan perdebatan yang memerlukan navigasi politik yang hati-hati.
Secara keseluruhan, episode ini menggambarkan kompleksitas dalam membangun komunikasi politik pasca-pemilu di Indonesia. Di satu sisi, ada dorongan kuat untuk rekonsiliasi dan meredam polarisasi yang telah memanas selama periode pemilihan. Di sisi lain, setiap partai politik memiliki kepentingan yang kuat untuk menjaga citra, posisi, dan gaya politiknya sendiri di mata publik dan konstituennya. PDIP dengan hati-hati menavigasi pujian dari lawan politiknya, menerima yang positif namun menolak keras upaya untuk mendikte atau menyamakan gaya oposisi mereka dengan figur lain. Ini adalah pelajaran penting tentang bagaimana elite politik mencoba membentuk narasi dan mengelola persepsi publik di tengah perubahan lanskap kekuasaan, sebuah tarian politik yang membutuhkan kepekaan dan strategi yang matang.